Kredibilitas Pemilu 2019
Dalam Melawan Hoax
Kita
berada di abad 21, dimana kita telah terkolaborasi dengan era percepatan luar
biasa (era Anthropocene). Dimana, era ini ditandai dengan teknologi yang
semakin canggih sehingga manusia bisa melintasi dunia dengan super cyber. Dengan pesatnya kemampuan
memobilisasi sistem digital melalui media sosial, maka akan terlintas dengan
mulus interaksi dan informasi yang masuk melalui vibrasi elektromagnetik. Baik
informasi berkonten positif maupun negatif.
Hal ini menuntut kemungkinan terjadinya perkembangan informasi palsu atau hoax.
Fenomena
hoax yang berkembang sejak masifnya penggunaan media sosial seakan bertambah merebak. Hoax itu
sendiri menjadi virus yang sangat sulit di berantas. Bahkan elite politik
maupun penegak hukum tidak dapat mencegah munculnya informasi hoax. Hoax biasa
tersebar melalui face to face, instagram, facebook, WhatsaAp, internet,
televisi dan sumber lainnya. Semakin dewasa
kecanggihan teknologi yang memuat bentuk hoax, maka munculah berbagai ragam bentuk hoax. Baik tentang
pendidikan, sosial, humor, lalu lintas maupun politik.
Menjelang
pemilu, partai-partai berebut untuk
mendapat perhatian masyarakat dan sosial media menjadi sarana kampanye yang paling
efektif. Sehingga mayoritas postingan di sosmed
atau linimasa menjadi alternatif solusi menyebarkan berita hoax di dunia
politik. Demi kepentingan ini, mereka siap mengeluarkan budget hingga ratusan
juta rupiah dan menghalalkan berbagai macam cara untuk menduduki kursi caleg tertinggi. Dan seringkali
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab
merekayasa fakta menjadi berita hoax yang akhirnya booming
di kalangan masyarakat maupun netizen.
Semakin
dekatnya pesta demokrasi tahun 2019 membuat partai politik, netizen maupun oknum tertentu saling
menjatuhkan lawannya dengan cara menyebarkan berita palsu atau hoax yang belum diketahui kebenarannya. Dari
ambisi tersebut membuat kredibilitas calon pemimpin
dalam pemilu menjadi tidak fokus pada visi, misi, dan
program yang sudah mereka rancang.
Hal ini terjadi karena mereka terlalu memfokuskan diri pada perolehan surat
suara tertinggi hingga membuat rekayasa dan perbuatan yang melanggar
norma dan hukum. Setelah mereka terpilih, mereka tidak lagi berfikir dampak dari hal
yang mereka telah lakukan.
Akibatnya ialah netizen yang suka membuat rangkaian
hoax di sosial media menjadi marak di Indonesia. membuat berita hoax seperti,
pemilik media membuat partai politik sendiri dan tidak melalui izin resmi,
bargabung dalam sebuah partai yang nantinya mereka dapat menggunakan medianya
sebagai sarana berkampanye, hingga banyaknya wartawan yang beralih profesi
menjadi caleg atau joki politik.
Dari perbuatan tersebut,
muncullah ketidakpercayaan masyarakat terhadap calon yang hanya mengutarakan
visi dan misi tanpa adanya bukti nyata dari aksi kampanye yang telah di suarakan. Sehingga, ke tidak senangan
masyarakat terhadap calon berakibat menyesatkan informasi dan timbul
ketimpangan informasi di antara anggota masyarakat. Hal inilah yang memicu
adanya perang opini di media sosial.
Semakin bertambahnya sampah
informasi yang bertebaran
tanpa verifikasi dan konfirmasi, menjadi
pemicu utama kepanikan publik terhadap media mainstream. fitnah, dan hujatan
bersahut-sahutan nyaris tiada henti
antara satu partai dengan partai lainnya. Hal ini dibuktikan dengan perolehan
data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika bahwa pada bulan Agustus 2018 sampai bulan desember teridentifikasi 68 konten hoax
tentang politik, dan
konten hoax politik paling banyak teridentifikasi pada bulan Desember 2018,
yaitu 18 konten. Untuk
itu, masyarakat dihimbau untuk melakukan pengecekan dan akreditasi terhadap
berita baru.sehingga masyarakat tidak terprovokasi dengan virus
hoax, berita palsu, dan ujaran kebencian
tentang calon pemimpin.
Pemilihan umum tahun 2019 adalah suatu demokrasi yang menjadi
ajang untuk mencari pemimpin dan wakil rakyat yang berkredibilitas, dalam artian seorang pemimpin bukan hanya mampu tetapi
juga layak dan pantas untuk menjadi seorang wakil rakyat. Bukan hanya itu,
kredibilitas yang mumpuni bagi calon pemimpin juga berkapabilitas dan
berintegritas tinggi sehingga bukan hanya layak tapi juga seimbang antara layak
dan mampu menjadi pemimpin.
Calon pemimpin rakyat yang berkapabilitas adalah sifat
yang dapat membuat masyarakat percaya
atas kemampuan, kecakapan, dan tanggung jawab yang dijadikan tonggak amanah yang nantinya dapat di
terima dan di taati warga Indonesia. Seorang pemimpin juga harus bisa menampung aspirasi
masyarakat sehingga masing-masing orang dapat bebas mengeluarkan
aspirasi tanpa adanya perpecahan
dan saling bertengkar antar warga negara indonesia.
Pemilu 2019 bukan hanya
golongan tua yang berperan aktif. Anak muda justru mempunyai medan magnet yang
kuat sebagai agen perubahan untuk mendekadensi adanya isu hoax yang belum
diketahui faktanya. Peran pemuda dapat
menjadi tombak terkuat dalam pemilu 2019. Sebab pemuda yang usia nya telah
mempunyai hak pilih di beri amanah untuk memilih
pemimpin.
Pada hakikatnya, mereka sebagai generasi berikutnya
harus memilih pemimpin yang berintelek, amanah, dan
berkapabilitas, berintegritas, mengayomi dan
diharapakan dapat mendobrak kredibilitas pemilu 2019 untuk pembangunan Indonesia lebih bermartabat.
Kredibilitas pemilu dalam melawan hoax diharapkan dapat berkapabilitas
menjadikan indonesia emas dan berkualitas menuju indonesia lebih bermartabat.
Kita
harus ingat bahwa dunia
digitalisme semakin ganas, aneka ajakan berbuat dosa dengan isu palsu mengalir
dengan deras. Oleh sebab itu, dunia
memberikan kesempatan kepada setiap bangsa untuk mampu berbicara. Untuk mampu
mengatasi dunia maya dengan selektif terhadap berita, memperdalam literasi media
sehingga tidak mudah terprovokasi akan berita hoax.
Dengan meminimalisir adanya hoax maka, pemimpin diharapkan mampu meletakkan masa depan negeri ini di
pundaknya. Menatap Indonesia lebih bermartabat, adalah targetnya. Berkolaborasi
dalam melawan hoax, adalah
kekuatannya. Menjadi pemimpin
berkapabilitas dan berintegritas, adalah langkahnya.
Menjadi pemimpin berintegritas tinggi, adalah
motivasinya. Sungguh, kredibilitas pemimpin
kini berbicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar