Senin, 25 Februari 2019

Kredibilitas Pemilu 2019 Dalam Melawan Hoax

Kita berada di abad 21, dimana kita telah terkolaborasi dengan era percepatan luar biasa (era Anthropocene). Dimana, era ini ditandai dengan teknologi yang semakin canggih sehingga manusia bisa melintasi dunia dengan super cyber. Dengan pesatnya kemampuan memobilisasi sistem digital melalui media sosial, maka akan terlintas dengan mulus interaksi dan informasi yang masuk melalui vibrasi elektromagnetik. Baik informasi berkonten positif maupun negatif. Hal ini menuntut kemungkinan terjadinya perkembangan informasi palsu atau hoax.
Fenomena hoax yang berkembang sejak masifnya penggunaan media sosial seakan bertambah merebak. Hoax itu sendiri menjadi virus yang sangat sulit di berantas. Bahkan elite politik maupun penegak hukum tidak dapat mencegah munculnya informasi hoax. Hoax biasa tersebar melalui face to face, instagram, facebook, WhatsaAp, internet, televisi dan sumber lainnya.  Semakin dewasa kecanggihan teknologi yang memuat bentuk hoax, maka munculah  berbagai ragam bentuk hoax. Baik tentang pendidikan, sosial, humor, lalu lintas maupun politik.
Menjelang pemilu, partai-partai berebut untuk mendapat perhatian masyarakat dan sosial media menjadi sarana kampanye yang paling efektif. Sehingga mayoritas postingan di sosmed atau linimasa menjadi alternatif solusi menyebarkan berita hoax di dunia politik. Demi kepentingan ini, mereka siap mengeluarkan budget hingga ratusan juta rupiah dan menghalalkan berbagai macam cara untuk menduduki kursi caleg tertinggi. Dan seringkali oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab merekayasa fakta menjadi berita hoax yang akhirnya booming di kalangan masyarakat maupun netizen.
Semakin dekatnya pesta demokrasi tahun 2019 membuat partai politik, netizen maupun oknum tertentu saling menjatuhkan lawannya dengan cara menyebarkan berita palsu atau hoax yang belum diketahui kebenarannya. Dari ambisi tersebut membuat kredibilitas calon pemimpin dalam pemilu menjadi tidak fokus pada visi, misi, dan program yang sudah mereka rancang. Hal ini terjadi karena mereka terlalu memfokuskan diri pada perolehan surat suara tertinggi hingga membuat rekayasa dan perbuatan yang melanggar norma dan hukum. Setelah mereka terpilih, mereka tidak lagi berfikir dampak dari hal yang mereka telah lakukan.
Akibatnya ialah netizen yang suka membuat rangkaian hoax di sosial media menjadi marak di Indonesia. membuat berita hoax seperti, pemilik media membuat partai politik sendiri dan tidak melalui izin resmi, bargabung dalam sebuah partai yang nantinya mereka dapat menggunakan medianya sebagai sarana berkampanye, hingga banyaknya wartawan yang beralih profesi menjadi caleg atau joki politik.
Dari perbuatan tersebut, muncullah ketidakpercayaan masyarakat terhadap calon yang hanya mengutarakan visi dan misi tanpa adanya bukti nyata dari aksi kampanye yang telah di suarakan. Sehingga, ke tidak senangan masyarakat terhadap calon berakibat menyesatkan informasi dan timbul ketimpangan informasi di antara anggota masyarakat. Hal inilah yang memicu adanya perang opini di media sosial.
Semakin bertambahnya sampah informasi yang bertebaran tanpa verifikasi dan konfirmasi, menjadi pemicu utama kepanikan publik terhadap media mainstream. fitnah, dan hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti antara satu partai dengan partai lainnya. Hal ini dibuktikan dengan perolehan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika bahwa pada bulan Agustus 2018 sampai bulan desember teridentifikasi 68 konten hoax tentang politik, dan konten hoax politik paling banyak teridentifikasi pada bulan Desember 2018, yaitu 18 konten. Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk melakukan pengecekan dan akreditasi terhadap berita baru.sehingga masyarakat tidak terprovokasi dengan virus hoax, berita palsu, dan ujaran kebencian tentang calon pemimpin.
Pemilihan umum tahun 2019 adalah suatu demokrasi yang menjadi ajang untuk mencari pemimpin dan wakil rakyat yang berkredibilitas, dalam artian seorang pemimpin bukan hanya mampu tetapi juga layak dan pantas untuk menjadi seorang wakil rakyat. Bukan hanya itu, kredibilitas yang mumpuni bagi calon pemimpin juga berkapabilitas dan berintegritas tinggi sehingga bukan hanya layak tapi juga seimbang antara layak dan mampu menjadi pemimpin.
Calon pemimpin rakyat yang berkapabilitas adalah sifat yang dapat membuat masyarakat percaya atas kemampuan, kecakapan, dan tanggung jawab yang dijadikan tonggak amanah yang nantinya dapat di terima dan di taati warga Indonesia. Seorang pemimpin juga harus bisa menampung aspirasi masyarakat sehingga masing-masing orang dapat bebas mengeluarkan aspirasi tanpa adanya perpecahan dan saling bertengkar antar warga negara indonesia.
Pemilu 2019 bukan hanya golongan tua yang berperan aktif. Anak muda justru mempunyai medan magnet yang kuat sebagai agen perubahan untuk mendekadensi adanya isu hoax yang belum diketahui faktanya. Peran pemuda dapat menjadi tombak terkuat dalam pemilu 2019. Sebab pemuda yang usia nya telah mempunyai hak pilih di beri amanah untuk memilih pemimpin.
Pada hakikatnya, mereka sebagai generasi berikutnya harus memilih pemimpin yang berintelek, amanah, dan berkapabilitas, berintegritas, mengayomi dan diharapakan dapat mendobrak kredibilitas pemilu 2019 untuk pembangunan Indonesia lebih bermartabat. Kredibilitas pemilu dalam melawan hoax diharapkan dapat berkapabilitas menjadikan indonesia emas dan berkualitas menuju indonesia lebih bermartabat.
Kita harus ingat bahwa dunia digitalisme semakin ganas, aneka ajakan berbuat dosa dengan isu palsu mengalir dengan deras. Oleh sebab itu, dunia memberikan kesempatan kepada setiap bangsa untuk mampu berbicara. Untuk mampu mengatasi dunia maya dengan selektif terhadap berita, memperdalam literasi media sehingga tidak mudah terprovokasi akan berita hoax.
Dengan meminimalisir adanya hoax maka, pemimpin diharapkan mampu meletakkan masa depan negeri ini di pundaknya. Menatap Indonesia lebih bermartabat, adalah targetnya. Berkolaborasi dalam melawan hoax, adalah kekuatannya. Menjadi pemimpin berkapabilitas dan berintegritas, adalah langkahnya. Menjadi pemimpin berintegritas tinggi, adalah motivasinya.  Sungguh, kredibilitas pemimpin kini berbicara.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Identitas Penulis

Lampiran DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS Nama Lengkap                                : Aprilia Nur Azizah Nama Panggilan  ...